Opini 21 April 2026

MENGAPA KITA HARUS MENULIS? MENGHIDUPKAN ILMU, MENGABADIKAN AMAL

Penulis: dr. Monte Selvanus Luigi Kusuma, MMR Editor: Admin Reading Time: 2 mins read
MENGAPA KITA HARUS MENULIS?  MENGHIDUPKAN ILMU, MENGABADIKAN AMAL

MENGAPA KITA HARUS MENULIS?

MENGHIDUPKAN ILMU, MENGABADIKAN AMAL

Oleh: dr. Monte Selvanus Luigi Kusuma, MMR_

Ketua Bidang LRB PDM Kebumen

Muqaddimah

Di tengah kehidupan modern, kita sering merasa telah “belajar banyak,” tetapi sedikit sekali yang kita abadikan. Kita hadir di sekolah sejak Taman Kanak-kanak, melanjutkan hingga perguruan tinggi, bahkan sebagian mencapai jenjang pascasarjana.

Namun pertanyaan mendasar muncul: "Apakah semua ilmu itu hanya berhenti di kepala?"

Sebagaimana dikatakan oleh seorang akademisi, Agung Praptapa:

> “Seharusnya kita ini menulis tentang apa pun yang kita ketahui, masa iya kita yang sudah sekolah sejak TK sampai kuliah tidak bisa menulis? Masa iya tidak ada setetes pun ilmu yang bisa kita peras dari sekolah kita selama itu?”

Kalimat ini bukan sekadar kritik, tetapi tamparan kesadaran.

Hakikat Menulis: Mengikat Ilmu yang Terbang

Ilmu pada hakikatnya seperti air —ia mengalir dan bisa hilang jika tidak ditampung. Menulis adalah wadahnya. Ulama klasik mengatakan:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ

“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”

Tanpa menulis:

✅ Ilmu hanya menjadi ingatan sementara

✅ Pemahaman tidak pernah matang

✅ Ide hilang sebelum sempat berkembang

Dengan menulis:

• Ilmu menjadi abadi

• Pemikiran menjadi terstruktur

• Warisan intelektual tercipta

Menulis bukan hanya aktivitas akademik, tetapi proses berpikir yang dipaksa menjadi jelas.

Mengapa Kita Harus Menulis?

1) Menulis adalah Bukti Kita Pernah Belajar

Bayangkan seseorang belajar 20–30 tahun, tetapi tidak pernah menulis satu pun gagasan. Maka ilmunya seperti hujan yang jatuh ke laut —tidak memberi manfaat.

Menulis adalah:

• Bukti bahwa kita pernah berpikir

• Bukti bahwa kita pernah memahami

• Bukti bahwa kita pernah hidup secara intelektual

2) Menulis Mengubah Ilmu Menjadi Amal Jariyah

Dalam Islam, ilmu yang bermanfaat termasuk amal yang tidak terputus.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ:

🔸إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ،

🔸أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ،

🔸أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara:

🔸sedekah jariyah

🔸ilmu yang bermanfaat

🔸anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Tulisan adalah salah satu bentuk ilmu yang terus hidup, bahkan setelah penulisnya wafat.

3) Menulis Melatih Kejujuran Berpikir

Banyak orang merasa “paham,” tetapi ketika diminta menulis, ia tidak mampu menjelaskan.

Karena:

• Menulis menuntut kejelasan

• Menulis membongkar kebingungan

• Menulis memaksa kita jujur terhadap kemampuan sendiri

4) Menulis Adalah Cara Berdakwah yang Abadi

Ucapan hanya terdengar sesaat, tetapi tulisan bisa melintasi zaman. Allah ﷻ berfirman:

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qalam: 1)

Ayat ini menunjukkan bahwa:

• Pena memiliki kedudukan mulia

• Tulisan adalah alat perubahan

• Peradaban dibangun oleh mereka yang menulis

Pelajar Muhammadiyah seringkali mengutip ayat di atas untuk menutup pidatonya, hal ini mengandung maksud: "Apa yang kita ucapkan hari ini harus menjadi sesuatu yang ditulis dan diwariskan. Jangan berhenti di tepuk tangan, lanjutkan dengan tulisan dan karya nyata, karena identitas persyarikatan Muhammadiyah adalah ilmu.”

5. Menulis Membentuk Identitas dan Warisan

Orang besar dikenal bukan hanya karena apa yang ia lakukan, tetapi karena apa yang ia tuliskan.

Kita mengenal:

• Ibnu Sina melalui karya medisnya

• Al-Ghazali melalui kitab-kitabnya

• Buya Hamka melalui tulisan-tulisannya

Mereka hidup lebih lama melalui tulisan daripada usia biologis mereka.

Kisah Nyata Inspiratif

Seorang mahasiswa diberi tugas untuk membuat sebuah essay, lalu ia mengeluh: “Saya tidak punya sesuatu yang istimewa untuk ditulis.”

Dosennya menjawab: “Bukan kamu tidak punya ilmu, kamu hanya tidak pernah mencoba memerasnya. Coba lakukan dengan sehari menulis satu halaman.”

Ia mulai menulis satu halaman per hari:

• Tentang pelajaran kuliah

• Tentang pengalaman hidup

• Tentang refleksi pribadi

Dalam satu tahun, ia telah memiliki 365 halaman tulisan dan ini lebih dari satu buku penuh. Yang terpenting kini ia memiliki pikiran yang jauh lebih tajam.

Jadi permasalahannya bukan kita tidak tahu, masalahnya adalah kita tidak mau.

Insight Mendalam

Menulis bukan tentang menjadi hebat terlebih dahulu baru menulis, tetapi menulis adalah proses untuk menjadi hebat.

Ada tiga kesalahan besar:

1. Menunggu sempurna baru menulis

2. Merasa ilmu belum cukup

3. Takut salah

Padahal:

• Tulisan pertama memang akan tampak buruk

• Tulisan kedua akan lebih baik

• Tulisan ke-100 akan mengubah hidup

Tidak ada penulis hebat tanpa ribuan tulisan biasa.

Khatimah

Ya ikhwah…

Jika hari ini kita tidak menulis, maka:

• Ilmu kita akan hilang

• Pengalaman kita akan lenyap

• Jejak kita akan terhapus

Namun jika kita mulai menulis:

• Kita menghidupkan ilmu

• Kita mengabadikan amal

• Kita meninggalkan warisan

Jangan tunggu waktu luang, jangan tunggu sempurna, dan jangan tunggu hebat. Mulailah menulis, karena menulis adalah cara kita berbicara kepada masa depan.

Sebagaimana renungan yang menggugah: “Masa iya kita sudah sekolah sejak TK sampai kuliah, tetapi tidak ada satu pun ilmu yang bisa kita tuliskan?”

Mulai hari ini, tulislah satu halaman. Besok satu halaman lagi. Dan suatu hari, tanpa kita sadari, kita telah menulis sebuah peradaban.

Wallahu Musta'an

رَبَّنَا انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا

"Ya Allah berilah kami manfaat apa yang telah kami pelajari."

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS Al Baqarah 147).

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

*) Ditulis di Gombong tanggal 04/04/2026