MEMAKNAI HAKIKAT 3M PERTOLONGAN ALLAH SWT
KEBUMEN – Pengajian Rutin Ahad Ke-4 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Poncowarno, Ahad tanggal 26 Juli 2026 M yang bertepatan dengan 11 Shafar 1448 H. Momentum kajian kali ini menghadirkan refleksi spiritual yang mendalam mengenai cara seorang muslim menyikapi takdir dan pertolongan Allah secara proporsional (wasathiyah) tidak ekstrem dalam berangan-angan, dan tidak putus asa dalam menghadapi ujian.
"Suasana khidmat Pengajian Rutin Ahad Ke-4 PCM Poncowarno bersama Narasumber Ustadz Miskun, S.Pd., M.Pd. dari Majelis Tabligh PDM Kebumen yang membedah konsep 3M dari Kitab Al-Hikam lengkap dengan teks Arab dan syarahnya, Ahad (26/7/2026)."
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran pleno PCM, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Poncowarno, serta simpatisan Warga Muhammadiyah.
Acara diawali secara resmi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan secara khusyuk oleh Ustadz Bambang Irawan, S.E.Sy. Beliau melantunkan Surat Al-Isra' ayat 78 hingga 82 yang salah satu fasalnya menegaskan fungsi Al-Qur'an sebagai obat penawar (syifa') dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Lantunan ayat suci ini berhasil membangun suasana pengajian yang teduh sejak awal.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan hangat dari tuan rumah KH. Tusah Ihsanudin, M.Ag. selaku sesepuh Tokoh atau bisa dibilang penasehat PCM Muhammadiyah Poncowarno. Dalam sambutannya beliau menekankan pentingnya merawat spirit spiritual melalui rasa syukur.
"Bersyukur bukan hanya saat kita menerima apa yang kita sukai. Bersyukur yang sejati adalah kemampuan hati untuk tetap melihat kebaikan dan karunia Allah di tengah situasi sesulit apa pun. Inilah karakter warga Muhammadiyah yang tangguh dan selalu optimistis," ujar KH. Tusah Ihsanudin.
Suasana khidmat sambutan dan arahan dari Penasehat PCM Poncowarno, KH. Tusah Ihsanudin, M.Ag., selaku tuan rumah Pengajian Rutin Ahad Ke-4 PCM Poncowarno, Ahad (26/07/2026).

Memasuki acara inti, suasana kajian dipandu secara interaktif oleh Ustadz H. Teguh Sriyantoro, S. Ag., M.Pd.I. Ketua Majelis Tabligh PCM Poncowarno selaku moderator. Bertindak sebagai narasumber utama, Ustadz Miskun, S.Pd., M.Pd. dari Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen, membedah tema utama mengenai konsep "3M Pertolongan Allah SWT".
Ustadz Miskun menjelaskan bahwa konsep 3M ini dinukil langsung dari kedalaman mutiara hikmah Kitab Al-Hikam karya ulama besar, Syekh Ibnu Atha'illah as-Sakandari. Beliau kemudian mengupas tuntas teks asli Arab beserta syarah dari ketiga bentuk pertolongan tersebut:
1. Meminta (Doa)
Ustadz Miskun mengutip salah satu bait populer dalam Al-Hikam:
مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالطَّلَبِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَكَ
“Ketika Allah melepaskan lidahmu untuk meminta (berdoa), maka ketahuilah bahwa sebetulnya Allah hendak memberi kepadamu.”
Beliau menjelaskan bahwa kemampuan dan kemauan seorang hamba untuk berdoa adalah taufik dan pertolongan awal dari Allah. Doa merupakan bentuk ketundukan tauhid yang murni. Namun, hamba harus paham bahwa Allah menjamin pengabulan sesuai pilihan-Nya, bukan pilihan nafsu manusia, serta pada waktu yang Dia kehendaki.
2. Memberi (Al-Atha’)
Bentuk pertolongan kedua adalah ketika Allah mengabulkan hajat lahiriah manusia secara nyata.
مَتَى شَهِدْتَ النِّعْمَةَ مِنْهُ، فَقَدْ أَعْطَاكَ الْعَطَاءَ النَّافِعَ
“Ketika kamu menyaksikan bahwa nikmat itu murni datang dari-Nya, maka sungguh Dia telah memberimu pemberian yang bermanfaat.”
stadz Miskun menekankan konsep wasathiyah di sini. Pemberian materi atau kelancaran urusan baru menjadi "pertolongan yang sejati" jika membuat hamba semakin bersyukur dan produktif beramal saleh. Sebaliknya, jika pemberian membuat lalai, itu adalah ujian atau istidraj.
3. Menolak (Al-Man’u)
Ini adalah puncak pemahaman spiritual yang paling mendalam dalam Al-Hikam:
مَتَى فَتَحَ لَكَ بَابَ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ، عَادَ الْمَنْعُ عَيْنَ الْعَطَاءِ
“Kapan saja Allah membukakan pintu pemahaman bagimu tentang alasan penolakan-Nya, maka berubahlah penolakan itu menjadi sebuah pemberian yang nyata.”
Ustadz Miskun memaparkan dengan gamblang bahwa ketika Allah belum atau tidak mengabulkan keinginan manusia, itu sejatinya adalah pertolongan yang tersamar. Allah Menolak sesuatu karena Dia Maha Tahu dampak buruknya bagi masa depan atau agama kita. Penolakan Allah adalah benteng perlindungan agar hamba-Nya selamat.
Kajian ini menegaskan prinsip Wasathiyah Muhammadiyah yang selalu menyeimbangkan antara aspek ibadah, kerja keras muamalah, dan ketenangan batin (tasawuf yang berkemajuan). Melalui kacamata Kitab Al-Hikam, warga Muhammadiyah diajak untuk memiliki mentalitas yang stabil: tidak frustrasi saat menghadapi kegagalan (karena tahu ada perlindungan Allah di balik penolakan), dan tidak lupa diri saat mendulang kesuksesan.

Pengajian rutin ini ditutup dengan doa Bersama dengan khusyuk. Untuk mempererat tali silaturahim (ukhuwah Islamiyah), acara dilanjutkan dengan sesi ramah tamah yang hangat. Suasana kebersamaan semakin terasa kental saat seluruh jamaah disajikan hidangan sarapan khas berupa tengkleng kambing. Menu lokal yang lezat ini menjadi penutup yang sempurna, sekaligus wujud nyata dari rasa syukur atas nikmat dari Allah SWT. Jamaah pun pulang membawa kesegaran iman sekaligus keceriaan dalam bingkai persaudaraan.